Minggu, 06 Januari 2013

Manggulu,Makanan khas yang sudah mulai jarang di temukan di Waingapu

Ukurannya kecil dan bentuknya mirip dodol.  Makanan khas ini sudah jarang ditemui di Sumba Timur khususnya di waingapu
Hanya di beberapa wilayah yang masyarakatnya masih membuat produk tersebut. Itu pun hanya pada waktu-waktu tertentu dan dalam jumlah tertentu.

Dalam kemasan aslinya, Manggulu dibungkus dengan daun pisang kering. Bagi orang Sumba, daun pisang kering memiliki nilai pengawet. Namun belakangan daun pisang mulai diganti dengan kemasan modern seperti plastik.

Manggulu saat ini memang masih ada. Namun keberadaannya mulai tergeser oleh penganan dari luar. Selain karena  produksinya terbatas, perubahan gaya hidup masyarakat Sumba turut berpengaruh terhadap eksistensi dari produk tersebut.  Keterbatasan produksi disebabkan oleh proses pembuatannya yang cukup memakan waktu.

Caranya, pisang kapok masak harus dikeringkan dahulu, kacang tanah goreng dikeluarkan kulit arinya. Kacang tanah kemudian ditumbuk. Demikian juga pisang masak kering. Setelah kedua bahan ini halus, dicampur lalu dibentuk.

Kalau cara tradisional, pembentukan dengan menggunakan tangan. Namun belakangan pencampuran dan  pembentukan bisa menggunakan mesin penggiling.

Manggulu saat ini memang  masih ditemukan di wilayah-wilayah  tertentu di Sumba Timur, seperti di Nggongi, Kahunga Eti. Di Kota Waingapu juga ada kelompok-kelompok binaan Badan Bimas Ketahanan Pangan yang masih membuat Manggulu. Namun produksinya tidak banyak. Karena itu, Manggulu jarang ditemukan di toko-toko kue. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Itupun jarang laku terjual karena Manggulu seakan tenggelam di antara penganan dari luar.

Hartini dari Badan Bimas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur adalah orang yang masih konsisten untuk mempertahankan produk khas Sumba Timur ini. Melalui kelompok binaannya, Hartini mencoba untuk mengembangkan kembali penganan ini dan bertekad untuk menempatkan Manggulu menjadi tuan di negeri sendiri.

Sumba Timur  sebenarnya kaya akan penganan lokal. Namun gaungnya kalah dengan penganan dari luar. Selain kemasan dan tampilan yang lebih menarik, pergeseran pola hidup masyarakat di daerah itu turut berpengaruh terhadap eksistensi penganan lokal.

Masyarakat Sumba Timur lebih berkelas jika menenteng donat atau roti daripada Manggulu. Selain itu, promosi dan pencitraan pangan lokal yang masih terbatas membuat penganan ini tidak banyak dilirik oleh masyarakat Sumba Timur. Manggulu belum terkenal seperti kacang Sumba.

Jangankan untuk masyarakat luar, generasi Sumba saja bahkan sudah ada yang tidak mengenal Manggulu. Padahal kalau diperkenalkan terus-menerus, Manggulu bisa menjadi penganan yang diminati banyak orang karena rasanya khas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar